Belakangan ini, linimasa Facebook ramai dengan unggahan para emak-emak FB Pro yang memamerkan hasil penghasilan mereka dalam bentuk dolar. Mulai dari tangkapan layar dashboard, notifikasi pencairan, hingga caption yang menegaskan bahwa mereka bisa menghasilkan uang hanya dari rumah.
Fenomena ini menjadi perbincangan hangat. Ada yang merasa termotivasi, ada yang penasaran ingin ikut, dan tak sedikit pula yang justru merasa tertekan atau curiga. Lalu, bagaimana sebenarnya kita harus memandang tren ini?
Pamer Penghasilan: Salah atau Wajar?
Pada dasarnya, memamerkan hasil kerja bukanlah hal yang sepenuhnya salah. Banyak orang melakukannya sebagai bentuk:
- Rasa syukur atas hasil yang didapat
- Motivasi untuk diri sendiri dan orang lain
- Personal branding agar terlihat kredibel di media sosial
Namun, masalah muncul ketika yang ditampilkan hanya hasil, tanpa cerita proses di baliknya. Media sosial sering kali menampilkan potongan paling indah dari sebuah perjalanan, bukan keseluruhan cerita.
Realita di Balik Angka Dolar
Tidak semua yang terlihat di media sosial menggambarkan kondisi sebenarnya. Ada beberapa hal yang sering luput ditampilkan:
Proses Panjang
Banyak yang berhasil setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun belajar, gagal, dan bangkit lagi.
Hasil Tidak Sama untuk Semua Orang.
Penghasilan di internet sangat dipengaruhi konsistensi, kemampuan, waktu luang, dan kondisi masing-masing.
Tekanan Psikologis
Bagi yang melihat, konten seperti ini bisa memicu rasa minder, takut tertinggal, atau merasa “kok aku nggak bisa seperti mereka”.
Sisi Negatif yang Perlu Diwaspadai
- Ilusi cepat kaya: seolah semua orang bisa langsung dapat dolar tanpa usaha besar
- Konten bermuatan jualan terselubung: pamer hasil untuk menarik orang membeli kelas, grup, atau sistem tertentu
- Kurang transparan: tidak menjelaskan risiko, kegagalan, dan kemungkinan tidak berhasil
Bagi orang awam, ini bisa berbahaya jika tidak dibarengi sikap kritis.
Sikap Bijak yang Seharusnya
Bagi yang Membuat Konten
- Tampilkan cerita proses, bukan hanya hasil
- Jelaskan bahwa hasil setiap orang bisa berbeda
- Hindari klaim berlebihan dan janji manis
- Fokus berbagi pengalaman, bukan sekadar pamer
Bagi yang Membaca atau Menonton
- Jadikan konten sebagai inspirasi, bukan standar hidup
- Lakukan riset sebelum ikut-ikutan
- Fokus pada perkembangan diri sendiri
- Ingat bahwa hidup bukan perlombaan di media sosial
Fenomena emak-emak FB Pro sebenarnya menunjukkan hal positif: semakin banyak perempuan berani belajar, berkarya, dan mandiri secara finansial di era digital. Namun, di balik itu semua, kita tetap perlu bersikap bijak, kritis, dan sadar realita.
Karena pada akhirnya, kesuksesan sejati tidak diukur dari seberapa sering dipamerkan, melainkan seberapa konsisten dijalani.
Tags
Opini
